Senin, 10 Maret 2014

Keteraturan di Jepang

Jepang sebuah negara yang sangat dikenal dengan kemajuan teknologinya tentu memegang posisi penting di Asia, raksasa teknologinya akan membuat orang tercengang kala menjejakkan kaki di negeri matahari terbit ini. Bagaimana tidak sejarah panjang  Jepang  tentu tidak pernah lepas dari keterpurukkan ketika negerinya porak poranda akibat diguncang Bom hiroshima dan Nagasaki. Bisa dibayangkan catatan keterpurukan seakan begitu membekas kuat dalam diri orang Jepang,sekitar 140.000 orang di Hiroshima menjadi korban sehingga secara otomatis berdampak pada penyusutan sumber daya manusia Jepang kala itu.
Belajar dari pengalaman seakan secara proses membentuk orang Jepang sebagai pekerja keras, ulet, bertanggung jawab, disiplin dalam berbagai hal untuk mensejajarkan diri dengan negara-negara maju dan tentu untuk mengejar ketinggalan mereka. Saat ini kesuksesan itu sudah mulai dituai oleh negara sakura tersebut, melihat kemajuan negaranya maka tentu menarik untuk memotret salah satu sisi-sisi kehidupan masyarakat di negeri ini. Saat suatu ketika saya berkesempatan mengunjungi negeri ini ada hal menarik yang coba saya share dalam postingan ini yaitu tentang sebuah keteraturan.KETERATURAN…………………………………………………………….
Keteraturan,……..keteraturan sekilas tampak saling berkaitan dengan disiplin sebab orang teratur tentu punya jiwa disiplin, seseorang tidak serta merta menjadi orang teratur kalau belum ditempah menjadi orang disiplin. Disiplin disini bukan hanya dalam kaca mata disiplin waktu, tetapi tentu kedisiplinan dan keteraturan dalam menata berbagai hal yang ada disekeliling kita. Salah satu yang coba di potret seperti di eskalator. Di Jepang jika melihat hiruk pikuk kesibukan bisa ditemukan diberbagai tempat termasuk pemandangan orang berjalan kaki, tergesa dengan langkah terburu-buru atau bahkan berlari menjadi pemandangan yang tidak asing. namun satu hal yang menarik ditengah suasana hiruk pikuk kesibukan itu saat mereka melewati eskalator selalu dengan keteraturan, ada sebuah konsep keteraturan yang coba di terapkan seperti halnya di eskalator misalnya bagi yang berjalan biasa akan melewati arah kiri tetapi yang terburu-buru akan melewati arah kanan(umumnya berlaku di wilayah Kantou), meski tidak semua kota-kota di Jepang punya keseragaman tentang arah jalan saat penggunaan eskalator tersebut. lain halnya di Osaka akan ditemukan sesuatu yang berkebalikan dengan wilayah Kantou dan sekitarnya. Di Osaka bagi yang berjalan di Eskalator yang cepat akan berjalan di sebelah kiri dan yang lambat di sebelah kanan.
Contoh keteraturan yang lainnya membuang sampah, sampah di Jepang seluruhnya telah memiliki standar tong sampah yang sudah terklasifikasi menjadi 3 bagian dengan standar recicle yang cukup teratur. Dukungan masyarakat pada suatu pola kesadaran untuk membuang sampah pada tempatnya sudah cukup dipahami oleh masyarakatnya. Disisi lain yang coba di lihat tentang keteraturan saat menghandle suatu kegiatan, dan tergabung dalam tim kepanitiaan, semua akan mengerjakan sesuatu sesuai job desknya masing-masing, solid dan tertata dengan baik, hal kecil yang bisa dilihat misalnya ketiga dalam suatu kegiatan tidak boleh dilakukan pemotretan sebab pemotretan hanya boleh dilakukan oleh seorang yang telah diberi kepercayaan menghandle pemotretan tersebut maka siapapun yang ada dalam kegiatan itu tidak akan melakukan pemotretan apapun karena kepercayaan telah di berikan pada seseorang, disini mereka akan selalu patuh pada kesepakatan yang telah di rembukkan bersama itulah sebuah sebuah keteraturan.

Mengenal Negara Jepang

Jepang adalah salah satu negara yang terletak di Asia Timur, bersama Korea dan juga China. Jepang merupakan negara maju yang ada didunia. Mereka pun memiliki kebudayaan yang menarik. Walaupun Jepang adalah negara maju, tetapi mereka tidak melupakan tradisi luhurnya. Memang menarik untuk melihat kehidupan di Jepang. Berikut saya coba berikan beberapa hal mengenai Jepang.

1.  Kuilnya yang indah

Jepang memiliki banyak kuil dengan bentuknya yang indah dan mengagumkan. Masyarakat Jepang umumnya memeluk agama Shinto dan ada juga agama Budha.

2.  Makanan Khas Jepang

Jepang memang terkenal dengan hasil lautnya, dan makanannya juga banyak dari ikan. Seperti sushi, tempura dan lainnya. Juga sambalnya yang disebut wasabi. Makanannya enak juga lho...

3.  Kesibukan Orang Jepang

 Masyarakat Jepang sangat sibuk dan kebanyakan dari mereka berangkat ke tempat aktivitasnya dengan jalan kaki atau angkutan umum. Seperti yang terjadi di jalan Shibuya, pejalan kakinya selalu banyak.

4.  Bunga Sakura

Jangan lupakan yang satu ini. Jepang merupakan tempat dari bunga sakura yang indah. Berjalan di bawah guyuran bungan sakura yang sedang jatuh, nampaknya menyenangkan sekali.

5. Pusat Otomotif Dunia

Pabrikan otomotif dari Jepang sangat mendunia dan menguasai pasar otomotif dunia. Pabrikan seperti Honda, Suzuki, Mitsubishi dan Toyota berasal dari negara ini. Mobilnya pun sudah banyak dipakai oleh masyarakat dunia.
Tidak salah jepang merupakan negara yang maju baik dalam hal teknologi dan juga adat mereka yang dijaga dengan baik. Kita bisa belajar dari Jepang, bagaimana cara untuk menjadi negara maju dan bisa membuat rakyatnya sejahtera.

KUNCI SUKSES ORANG JEPANG

1. Kerja Keras

Sudah menjadi rahasia umum bahwa bangsa Jepang adalah pekerja keras. Rata-rata jam kerja pegawai di Jepang adalah 2450 jam/tahun, sangat tinggi dibandingkan dengan Amerika (1957 jam/tahun), Inggris (1911 jam/tahun), Jerman (1870 jam/tahun), dan Perancis (1680 jam/tahun).
Seorang pegawai di Jepang bisa menghasilkan sebuah mobil dalam 9 hari, sedangkan pegawai di negara lain memerlukan 47 hari untuk membuat mobil yang bernilai sama. Seorang pekerja Jepang boleh dikatakan bisa melakukan pekerjaanG yang biasanya dikerjakan oleh 5-6 orang. Pulang cepat adalah sesuatu yang boleh dikatakan “agak memalukan” di Jepang, dan menandakan bahwa pegawai tersebut termasuk “yang tidak dibutuhkan” oleh perusahaan.

2. Malu

Malu adalah budaya leluhur dan turun temurun bangsa Jepang. Harakiri (bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut) menjadi ritual sejak era samurai, yaitu ketika mereka kalah dan pertempuran. Masuk ke dunia modern, wacananya sedikit berubah ke fenomena “mengundurkan diri” bagi para pejabat (mentri, politikus, dsb) yang terlibat masalah korupsi atau merasa gagal menjalankan tugasnya. Efek negatifnya mungkin adalah anak-anak SD, SMP yang kadang bunuh diri, karena nilainya jelek atau tidak naik kelas. Karena malu jugalah, orang Jepang lebih senang memilih jalan memutar daripada mengganggu pengemudi di belakangnya dengan memotong jalur di tengah jalan. Mereka malu terhadap lingkungannya apabila mereka melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi kesepakatan umum.

3. Hidup Hemat

Orang Jepang memiliki semangat hidup hemat dalam keseharian. Sikap anti konsumerisme berlebihan ini nampak dalam berbagai bidang kehidupan. Di masa awal mulai kehidupan di Jepang, saya sempat terheran-heran dengan banyaknya orang Jepang ramai belanja di supermarket pada sekitar jam 19:30. Selidik punya selidik, ternyata sudah menjadi hal yang biasa bahwa supermarket di Jepang akan memotong harga sampai separuhnya pada waktu sekitar setengah jam sebelum tutup. Seperti diketahui bahwa Supermarket di Jepang rata-rata tutup pada pukul 20:00.

4. Loyalitas

Loyalitas membuat sistem karir di sebuah perusahaan berjalan dan tertata dengan rapi. Sedikit berbeda dengan sistem di Amerika dan Eropa, sangat jarang orang Jepang yang berpindah-pindah pekerjaan. Mereka biasanya bertahan di satu atau dua perusahaan sampai pensiun. Ini mungkin implikasi dari Industri di Jepang yang kebanyakan hanya mau menerima fresh graduate, yang kemudian mereka latih dan didik sendiri sesuai dengan bidang garapan (core business) perusahaan.

5. Inovasi

Jepang bukan bangsa penemu, tapi orang Jepang mempunyai kelebihan dalam meracik temuan orang dan kemudian memasarkannya dalam bentuk yang diminati oleh masyarakat. Menarik membaca kisah Akio Morita yang mengembangkan Sony Walkman yang melegenda itu. Cassete Tape tidak ditemukan oleh Sony, patennya dimiliki oleh perusahaan Phillip Electronics. Tapi yang berhasil mengembangkan dan membundling model portable sebagai sebuah produk yang booming selama puluhan tahun adalah Akio Morita, founder dan CEO Sony pada masa itu. Sampai tahun 1995, tercatat lebih dari 300 model walkman lahir dan jumlah total produksi mencapai 150 juta produk. Teknik perakitan kendaraan roda empat juga bukan diciptakan orang Jepang, patennya dimiliki orang Amerika. Tapi ternyata Jepang dengan inovasinya bisa mengembangkan industri perakitan kendaraan yang lebih cepat dan murah.

6. Pantang Menyerah

Sejarah membuktikan bahwa Jepang termasuk bangsa yang tahan banting dan pantang menyerah. Puluhan tahun dibawah kekaisaran Tokugawa yang menutup semua akses ke luar negeri, Jepang sangat tertinggal dalam teknologi. Ketika restorasi Meiji (meiji ishin) datang, bangsa Jepang cepat beradaptasi dan menjadi fast-learner. Kemiskinan sumber daya alam juga tidak membuat Jepang menyerah. Tidak hanya menjadi pengimpor minyak bumi, batubara, biji besi dan kayu, bahkan 85% sumber energi Jepang berasal dari negara lain termasuk Indonesia . Kabarnya kalau Indonesia menghentikan pasokan minyak bumi, maka 30% wilayah Jepang akan gelap gulita Rentetan bencana terjadi di tahun 1945, dimulai dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki , disusul dengan kalah perangnya Jepang, dan ditambahi dengan adanya gempa bumi besar di Tokyo . Ternyata Jepang tidak habis. Dalam beberapa tahun berikutnya Jepang sudah berhasil membangun industri otomotif dan bahkan juga kereta cepat (shinkansen) . Mungkin cukup menakjubkan bagaimana Matsushita Konosuke yang usahanya hancur dan hampir tersingkir dari bisnis peralatan elektronik di tahun 1945 masih mampu merangkak, mulai dari nol untuk membangun industri sehingga menjadi kerajaan bisnis di era kekinian. Akio Morita juga awalnya menjadi tertawaan orang ketika menawarkan produk Cassete Tapenya yang mungil ke berbagai negara lain. Tapi akhirnya melegenda dengan Sony Walkman-nya. Yang juga cukup unik bahwa ilmu dan teori dimana orang harus belajar dari kegagalan ini mulai diformulasikan di Jepang dengan nama shippaigaku (ilmu kegagalan). Kapan-kapan saya akan kupas lebih jauh tentang ini

7. Budaya Baca

Jangan kaget kalau anda datang ke Jepang dan masuk ke densha (kereta listrik), sebagian besar penumpangnya baik anak-anak maupun dewasa sedang membaca buku atau koran. Tidak peduli duduk atau berdiri, banyak yang memanfaatkan waktu di densha untuk membaca. Banyak penerbit yang mulai membuat man-ga (komik bergambar) untuk materi-materi kurikulum sekolah baik SD, SMP maupun SMA. Pelajaran Sejarah, Biologi, Bahasa, dsb disajikan dengan menarik yang membuat minat baca masyarakat semakin tinggi. Saya pernah membahas masalah komik pendidikan di blog ini. Budaya baca orang Jepang juga didukung oleh kecepatan dalam proses penerjemahan buku-buku asing (bahasa inggris, perancis, jerman, dsb). Konon kabarnya legenda penerjemahan buku-buku asing sudah dimulai pada tahun 1684, seiring dibangunnya institute penerjemahan dan terus berkembang sampai jaman modern. Biasanya terjemahan buku bahasa Jepang sudah tersedia dalam beberapa minggu sejak buku asingnya diterbitkan.

8. Kerjasama Kelompok

Budaya di Jepang tidak terlalu mengakomodasi kerja-kerja yang terlalu bersifat individualistik. Termasuk klaim hasil pekerjaan, biasanya ditujukan untuk tim atau kelompok tersebut. Fenomena ini tidak hanya di dunia kerja, kondisi kampus dengan lab penelitiannya juga seperti itu, mengerjakan tugas mata kuliah biasanya juga dalam bentuk kelompok. Kerja dalam kelompok mungkin salah satu kekuatan terbesar orang Jepang. Ada anekdot bahwa “1 orang professor Jepang akan kalah dengan satu orang professor Amerika, hanya 10 orang professor Amerika tidak akan bisa mengalahkan 10 orang professor Jepang yang berkelompok” . Musyawarah mufakat atau sering disebut dengan “rin-gi” adalah ritual dalam kelompok. Keputusan strategis harus dibicarakan dalam “rin-gi”.

9. Mandiri

Sejak usia dini anak-anak dilatih untuk mandiri. Irsyad, anak saya yang paling gede sempat merasakan masuk TK (Yochien) di Jepang. Dia harus membawa 3 tas besar berisi pakaian ganti, bento (bungkusan makan siang), sepatu ganti, buku-buku, handuk dan sebotol besar minuman yang menggantung di lehernya. Di Yochien setiap anak dilatih untuk membawa perlengkapan sendiri, dan bertanggung jawab terhadap barang miliknya sendiri. Lepas SMA dan masuk bangku kuliah hampir sebagian besar tidak meminta biaya kepada orang tua. Teman-temen seangkatan saya dulu di Saitama University mengandalkan kerja part time untuk biaya sekolah dan kehidupan sehari-hari. Kalaupun kehabisan uang, mereka “meminjam” uang ke orang tua yang itu nanti mereka kembalikan di bulan berikutnya.

10. Jaga Tradisi & Menghormati Orang Tua

Perkembangan teknologi dan ekonomi, tidak membuat bangsa Jepang kehilangan tradisi dan budayanya. Budaya perempuan yang sudah menikah untuk tidak bekerja masih ada dan hidup sampai saat ini.

Budaya minta maaf masih menjadi reflek orang Jepang. Kalau suatu hari anda naik sepeda di Jepang dan menabrak pejalan kaki , maka jangan kaget kalau yang kita tabrak malah yang minta maaf duluan.

Sampai saat ini orang Jepang relatif menghindari berkata “tidak” untuk apabila mendapat tawaran dari orang lain. Jadi kita harus hati-hati dalam pergaulan dengan orang Jepang karena “hai” belum tentu “ya” bagi orang Jepang Pertanian merupakan tradisi leluhur dan aset penting di Jepang. Persaingan keras karena masuknya beras Thailand dan Amerika yang murah, tidak menyurutkan langkah pemerintah Jepang untuk melindungi para petaninya. Kabarnya tanah yang dijadikan lahan pertanian mendapatkan pengurangan pajak yang signifikan, termasuk beberapa insentif lain untuk orang-orang yang masih bertahan di dunia pertanian. Pertanian Jepang merupakan salah satu yang tertinggi di dunia.